Kita hidup di atasnya setiap hari, namun jarang sekali memikirkannya.
Ia menopang gedung-gedung yang kita huni, menyimpan dan mengalirkan air yang kita minum, menjadi rahim bagi setiap benih yang tumbuh, merekam perubahan bumi selama jutaan tahun, hingga diam-diam menentukan rasa dan gizi dari makanan yang tiba di piring kita.
Ia adalah tanah.

Dan tanah adalah jantung dari sesuatu yang jauh lebih luas: Keanekaragaman Geologi atau Geodiversitas.
6 Oktober: Mengingat yang Tak Hidup untuk yang Hidup
Setiap tanggal 6 Oktober, dunia memperingati International Geodiversity Day. Ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 2021, hari ini hadir untuk mengingatkan kita pada satu kebenaran sederhana: kehidupan tidak hanya ditopang oleh keanekaragaman hayati (biodiversitas), tetapi juga oleh keanekaragaman yang tak hidup.
Batu, mineral, fosil, sedimen, tanah, air, bentang alam, serta proses-proses geologi yang membentuknya. Tanpa mereka, tidak ada kehidupan.
“Geodiversity On Our Doorstep” – Keanekaragaman Geologi di Depan Pintu Kita.

Sebuah pesan ajakan agar kita untuk tidak selalu mencari geodiversitas di gunung api yang jauh, di gua yang dalam, atau di tebing-tebing geopark yang megah. Lihatlah ke bawah, ke sekitar. Ia ada di halaman rumah, di alur sungai di belakang kampung, di pematang sawah, pada batu kali yang menjadi fondasi rumah, pada tanah yang kita pijak setiap pagi.


Mustani: Tempat Geodiversitas Menjadi Cerita
Di sinilah Museum Tanah dan Pertanian (Mustani) menemukan relevansinya yang paling kuat.
Mustani merupakan museum tentang pertemuan antara tanah, lingkungan, teknologi, dan peradaban manusia.
Di dalam Galeri Tanah, Iklim, dan Lingkungan Pertanian, lebih dari 500 koleksi batuan, tanah, dan makromonolit yang mewakili 10 ordo tanah Indonesia disimpan dan dirawat. Koleksi yang mungkin terlihat diam, namun sesungguhnya sangat penuh cerita.
Karena di Mustani, kami percaya:
Sebongkah batu di museum bukan sekadar batu. Ia adalah arsip waktu, rekaman dari proses geologi yang membentuk Nusantara.
Segumpal tanah bukan sekadar tanah. Ia adalah rekaman iklim, lingkungan, dan kehidupan.
Sebuah monolit tanah bukan sekadar potongan profil. Ia adalah autobiografi bumi – tentang bagaimana bahan induk, iklim, air, organisme, relief, dan waktu berbincang dan membentuk kehidupan.
Ketika koleksi-koleksi itu disandingkan dengan peta-peta tanah tua, alat-alat survei, dan jejak teknologi pertanian, satu benang merah menjadi jelas: sejarah pertanian Indonesia adalah sejarah tanah dan bentang alamnya sendiri.
Pada Hari Keanekaragaman Geologi Internasional ini, Mustani ingin mengajak semua untuk kembali menunduk, menyentuh tanah, dan memahami bahwa menjaga tanah berarti menjaga masa depan pangan dan peradaban.
Karena kedaulatan pangan, sesungguhnya bermula dari kedaulatan memahami tanah.
Museum Tanah dan Pertanian – Bogor, 6 Oktober 2026
#MuseumTanahPertanian #KementerianPertanian


Tinggalkan Balasan